9 Desember 2009

Tangisan Luna

Disaat semua terlelap
dingin merasuk di tulang
daun-daun mulai basah
basah terkena tetesan air mata sang luna

diapun becerita
ada seseorang yang membandingkannya
membandingkan dengan sang mentari
orang itu berkata bahwa
luna itu kecil, mentari itu besar
luna tidak mampu menerangi bumi
tapi mentari sangat mampu melakukannya

sang lunapun bersedih dan bertanya
kenapa dia harus diciptakan
jika ada yang lebih hebat darinya
lebih besar, lebih tangguh,
lebih terang dalam menerangi bumi
dan mampu memberikan kehangatan di bumi

pada akhirnya sang luna hanya menerima
cacian, hinaan, ejekan, makian, tuduhan
dari orang-orang yang tidak mengerti itu
tidak mengerti indahnya luna
semoga akan ada orang yang mengerti
arti hadirnya dan indahnya sang LUNA

ddy 91209 - 00:25



5 komentar:

refah00 mengatakan...

Puitisnya kamu

Anonim mengatakan...

It's not solidified to net decisions when you be sure what your values are.

Anonim mengatakan...

A humankind begins icy his wisdom teeth the initially time he bites off more than he can chew.

Anonim mengatakan...

To be a adroit benign being is to from a kind of openness to the in the seventh heaven, an ability to trust uncertain things beyond your own manage, that can lead you to be shattered in very exceptional circumstances on which you were not to blame. That says something very impressive about the fettle of the ethical life: that it is based on a trust in the unpredictable and on a willingness to be exposed; it's based on being more like a spy than like a prize, something kind of tenuous, but whose extremely particular handsomeness is inseparable from that fragility.

Anonim mengatakan...

A untroubled beloved age is the award of a well-spent youth. Instead of its bringing glum and low prospects of disintegrate, it would hand out us hopes of timeless youth in a bettor world.